Terdapatbegitu banyak perkara dalam hidup yang kita bertolak ansur. Sebahagian daripada kita perlu berurusan dengan (cukai, cuaca buruk, lalu lintas). Tetapi ada sebahagian besar daripada perkara yang kita bertolak ansur walaupun kita tidak perlu. Kita melangkah sekitar, perkara terlepas pandang dan tanpa berfikir kita telah kekeringan tenaga. JAKARTA PT Mass Rapid Transit ( MRT) Jakarta melakukan kunjungan kerja ke Jepang pada Senin (11/7/2022) hingga Jumat (15/7/2022). Kunjungan kerja yang dipimpin oleh Direktur Operasi dan Pemeliharaan MRT Jakarta Muhammad Effendi bertujuan untuk mempererat kerja sama penyediaan suku cadang dengan sejumlah mitra. PerkataanYesus tersebut menjadi gambaran bagi kita bahwa untuk memperoleh sesuatu yang berlimpah harus berani bertolak ke tempat yang lebih dalam. Simon yang pada awalnya penjala ikan dipanggil Allah untuk menjadi penjala manusia. Dipanggil untuk mewartakan firman Allah kepada orang-orang yang belum mengenal atau percaya kepada Allah. cash. Minggu, 7 Februari 2016 Minggu Biasa V Yes 6 Mzm 138 1Kor 151-11; Luk 51-11 Yesus berkata kepada Simon, “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” DALAM bacaan Minggu lalu Lukas 421-30, kita berjumpa dengan Yesus Kristus yang mengajar banyak orang di sinagoga di Nazareth. Hari ini kita membaca bahwa Yesus menghadapi banyak orang di danau dan di sana Ia mengajar mereka. Kita dapat membayangkan bahwa bagi orang-orang ini, danau adalah segalanya air, ikan, makanan, transportasi, obyek keindahan dan kontemplasi. Namun bagi Yesus, danau dapat menyatakan misteri iman dan rencana ilahi. Di danau, Ia hendak membantu kita mengerti begitu banyak hal yang merupakan bagian dari kehidupan dalam perspektif iman. Pertama-tama, Yesus Kristus mengajar kita dengan memasuki perahu Simon dan menyuruhnya untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jalanya. Reaksi Simon mungkin juga menjadi reaksi kita. Tentu Simon lebih tahu dengan baik keadaan danau dibandingkan Yesus. Maka wajar bila SImon berkata kepada-Nya, “Guru, sudah sepanjang malam kami bekerja mencari ikan namun tidak menangkap apa-apa. Namun karena Engkau yang memintanya maka kuterbarkan jala juga. Kita lihat apa yang terjadi.” Simon gelisah dan lelah sudah sepanjang malam gagal mencari dan mendapatkan ikan, namun Ia tetap percaya kepada perkataan Yesus. “Karena perintah-Mu, maka kami terbarkan jala juga!” Di sini kita belajar untuk mendengarkan sabda Yesus dan menerima perintah-Nya, bahkan saat kita mengalami kekecewaan dan kegagalan. Yesus meminta kita untuk sesuatu yang membutuhkan iman dan melawan kesukaan kita pribadi. Kedua, Yesus Kristus hendak mengajar kita tentang kerendahan hati dan ketaatan untuk mewartakan sukacita Injil. Ketika Yesus Kristus melakukan sesuatu yang istimewa dalam hidup kita seperti yang dialami Simon, mungkin kita juga berkata, “Tuhan pergilah dari pada-Ku, sebab aku ini seorang berdosa!” Namun Yesus memanggil kita untuk bersaksi tentang sukacita Injil. Ia akan berkata pula kepada kita, “Jangan takut, Mulai sekarang Engkau akan menjala manusia!” Dalam Adorasi Ekaristi Abadi sementara kita menyembah Yesus Krsitus kita belajar bertolak ke tempat yang dalam di kehidupan kita. Di sana kita juga hendak mendengarkan sabda-Nya dan melakukan kehendak-Nya. Tuhan Yesus Kristus, sejak kami mulai relfeksi ini, kami merasakan Engkau mulai masuk ke dalam kapal kehidupan kami. Kami bertolak ke tempat yang dalam, jauh dari semua keprihatinan harian. Kami bertolak ke tempat yang dalam jauh dari hal-hal harian, untuk mendengarkan Engkau saja. Semoga kami menjadi sungguh-sungguh rendah hati dan penuh syukur sebab Engkau akan menghabiskan waktu-Mu untuk bersama kami secara pribadi dalam Sakramen Mahakudus kini dan selamanya. Amin. Kredit foto Ilustrasi Ist Terjebak dan arus lalu lintas tak bisa bergerak berjam-jam berjam-jam di rute perjalanan Ketapang-Tanjung akhir Agustus 2022. Romo A. Joko Purwanto Pr Puncta Biasa XXIILukas 5 1-11 SEPEKAN kemarin kami berkunjung ke Paroki Tanjung di Ketapang. Kami menyapa teman yang bertugas di pedalaman. Priests visit priests. Kami berangkat dari Keuskupan Ketapang pukul pagi. Tiba di Tanjung sudah pukul Malam sudah gelap. Perjalanan habis di daerah Mahawa yang medannya rusak parah. Ada banyak mobil kecil amblas di jalan penuh lumpur. Tak bisa bergerak. Berjam-jam kami antri supaya mobil satu per satu bisa tembus. Jarak tempuh sebenarnya tinggal 15 km saja sampai di Tanjung. Tetapi karena jalan hancur kami menunggu berjam-jam sampai hari gelap. Setelah sampai di paroki, kami disambut Fr. Gusti yang jaga rumah. Romo Krisno sedang ada misa di stasi malam itu. Dia pulang ke pastoran kehujanan, karena hanya naik sepeda motor. Hari gelap, hujan deras, jalan buruk adalah menu harian yang harus dijalani. “Kamu jauh-jauh, susah-susah ke pedalaman seperti ini mau cari apa ta Kris?” tanya seorang romo yang belum pernah bermisi ke luar Jawa. “Masih ada tempat yang lebih sulit dan menantang dari sini,” Romo Krisno menjawab dengan senyum ceria. Umat di pedalaman masih sangat membutuhkan warta keselamatan. Kita harus berani diutus ke tempat-tempat yang dalam demi keselamatan jiwa-jiwa. Jangan hanya berpikir cari enak-enak, merasa cukup di tempat sendiri. Tidak mau diutus ke tempat yang dalam di luar keuskupan. Begitulah kesimpulan perbincangan kami malam itu, sambil minum tuak dan makan kimpul rebus. Injil hari ini menyiratkan agar para murid berani bertolak ke tempat yang dalam. Yesus menyuruh Simon untuk menangkap ikan. “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Kalau kita hanya pergi ke tempat dangkal, kita tidak akan mendapat apa-apa. Paling-paling ikan “uceng, cethul,” wader atau ikan kecil lainnya. Tetapi kalau kita berani pergi ke tempat yang dalam, di sana ada ikan-ikan besar yang bisa ditangkap. Selama setahun berkarya di Tanjung, Romo Krisno sudah membaptis hampir 800-an anak, membereskan banyak pasangan perkawinan. Itulah gambaran laut yang dalam. Saya di Cawas, setahun tidak sampai 20 anak yang dibaptis. Memberkati perkawinan setahun bisa dihitung dengan jari. Dengan medan yang sulit, tantangan yang berat, ombak dan badai di laut yang dalam juga bisa menghasilkan nahkoda yang handal. Alam akan mendidik kita menjadi imam yang tangguh, kuat dan “mrantasi”. Tidak mudah mengeluh. Sedang laut yang dangkal, tenang justru membuat kita menjadi imam yang manja, loyo, malas, “kakehan alesan lan sak kepenake dewe.” Imamat kita itu dari Yesus, bukan jerih payah kita sendiri. Kalau menganggap imamat itu hasil usaha kita, pengalaman Petrus akan menjelaskan. “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa.” Bekerja hanya menuruti kemauan sendiri, “sak kepenake,” tidak akan menghasilkan apa-apa. Tetapi Yesus menyuruh kita bertolak ke tempat yang dalam untuk menebarkan jala. Yesus yang punya kuasa mengutus, tidak perlu ada tawar menawar. Dia yang mengutus, Dia yang akan mengurus. Mari berani diutus bertolak ke tempat yang dalam? Berani bertolak lebih dalam,Agar bisa nangkap banyak takut menjadi imamSemua sudah diatur oleh Tuhan Cawas, duc in altum… SELAMA tiga dekade hingga masuknya Jepang ke Bali, ternyata Belanda lah yang turut berperan menciptakan pencitraan Bali yang masih langgeng kita kenal hingga hari ini tertib, damai, artistik, dan mencintai kebudayaan. Fakta di buku bertajuk Prosa Gerilya Mengurai Kisah Ngurai Rai tersebut menjadi wawasan baru tentang 'tangan' Belanda yang turut campur membentuk wajah Bali. Citra Bali yang lekat saat ini memang daerah dengan panorama indah berbalut keramahan penduduk yang bernaluri seni tinggi, memiliki adat unik, dan pemeluk Hindu yang taat. Hal itu menjadi daya pikat bagi banyak orang untuk bertandang, bahkan hingga berulang, ke wilayah yang dikenal dengan sebutan pulau dewata tersebut. Tidak mengherankan jika Bali acap diperhitungkan dalam daftar 10 destinasi paling populer dunia versi media berpengaruh, seperti Lonely Planet, Travel+Leisure, hingga Forbes. Sang penulis, Andre Syahreza, ingin memperlihatkan Bali dari sisi yang berbeda. Lewat Prosa Gerilya, ia membawa pembaca lebih dulu pergi ke masa lalu yang kemudian dikorelasikan dengan masa kini. Andre menggambarkan sisi lain Bali melalui perjalanan hidup I Gusti Ngurah Rai, pahlawan nasional yang namanya diabadikan menjadi nama bandara internasional Bali sejak 1969. Buku yang terdiri dari lima bab itu mengurai kisah hidup Ngurah Rai dari sejak kecil hingga menuntaskan perjuangaannya untuk Indonesia pada 1946. Sepanjang menelusuri jejak Ngurah Rai, Andre juga ikut mengupas nuansa Bali di waktu silam. Dimulai dari persinggahannya di Ubud yang lekat dengan suasana tenang, penuh rimbun pepohonan, dan jauh dari ingar bingar, dilanjut dengan menepi ke Desa Carangsari, tempat kelahiran Ngurah Rai, sekitar 10 km dari Ubud. Desa yang dewasa ini, seperti banyak tempat lain di Bali, sudah banyak dihiasi kafe-kafe nan instagramable. Belanda dan Balinisasi Di bab pertama, ada suguhan menarik lain tentang cikal-bakal Bali menjadi destinasi wisata terpopuler yang lagi-lagi disebut ada campur tangan Belanda. Pada halaman 62, misalnya, dikisahkan jika di akhir 1920-an, yang merupakan masa kecil Ngurah Rai, pemerintah Belanda menerapkan Baliseering yang kerap diartikan sebagai Balinisasi. Hal itu disebut menjadi upaya Belanda membentuk orang Bali dalam citra seperti yang ingin dilihat dunia Barat. Baliseering mewajibkan orang Bali untuk menggunakan pakaian tradisional, berbicara dalam bahasa Bali, hingga membangun rumah dengan arsitektur Bali. Jika tidak mengikuti aturan, bisa dikenakan konsekuensi hukum di pengadilan yang diawasi Belanda. Pada kurun waktu tersebut, rombongan wisatawan asing memang sudah mulai berdatangan dalam jumlah kecil, termasuk di antaranya antropolog Barat Margaret Mead dan Gregory Bateson yang sempat menetap di Bali. Pencitraan tersebut kemudian pun terus berlangsung meskipun Belanda sudah kalah di tangan Jepang pada 1942, waktu ketika Ngurah Rai sedang menyelesaikan akademi militer di Jawa Tengah. MI/Duta Memahami Ngurah Rai secara utuh Dalam buku itu, Andre menyajikan fakta sejarah yang mungkin baru bagi sebagian kalangan terkait dengan perjalanan hidup Ngurah Rai hingga akhirnya mampu memetakan taktik perang melawan Belanda dan berjuang dalam Perang Puputan Margarana. Jauh sebelum dilantik menjadi Komandan Resimen TRI Sunda Kecil yang wilayah kekuasaannya mencakup Bali hingga Nusa Tenggara dengan pangkat letnan kolonel, Ngurah Rai muda yang dikenal sebagai pendekar silat bergabung dengan Korps Prajoda, korps tentara kerja sama Belanda KNIL dengan kaum bangsawan Bali. Pengungkapan fakta itu, menurut penulis, bukan lantaran ingin mengubah persepsi tentang seorang pahlawan yang pernah ikut dalam barisan tentara Belanda. Ia ingin mencoba memahami sosok Ngurah Rai secara utuh sebagai seorang manusia, sebagai orang Bali, lebih dari sekadar pahlawan. Karena bagi penulis, kepahlawanan yang nasionalistis hanya mampu memotret satu aspek dari seorang tokoh dan menghilangkan aspek-aspek lain yang sejatinya justru membantu kita melihat tokoh bersangkutan sebagai seorang manusia biasa sebagaimana kebanyakan dari kita. Membaca sejarah dengan bahasa kekinian Buku setebal 204 halaman itu mengulas historis Bali yang bukan sekadar tempat pelesiran dengan kafe-kafe atau beach club kiwari. Meski bukan topik yang terbilang ringan, membacanya terasa mengasyikkan sebab sajian wajah Bali di masa kolonial yang berkelindan dengan figur I Gusti Ngurah Rai sebagai tokoh utama dibahasakan dengan begitu ringan. Beberapa kali penulis menyematkan kalimat-kalimat kekinian yang kerap terdengar di kalangan generasi Z. Cerita awal mula hingga akhir peperangan mengusir penjajah yang dikomandoi I Gusti Ngurah Rai banyak menyuratkan pesan-pesan inspiratif. Cerita tersebut bukan karangan atau sekadar pembacaan literasi dari sang penulis, melainkan hasil wawancara dari para saksi sejarah dan beberapa orang yang dekat dengan Ngurah Rai, baik di dalam maupun luar negeri. Umpama, sebagai pemimpin perang, nyatanya Ngurah Rai digambarkan Wayan Semadi atau Pan Pugeh yang ialah saksi sejarah, sebagai pribadi yang halus dengan sifat damai. Mungkin hal itulah yang membuat ribuan rakyat Bali bersedia berjuang bersama Ngurah Rai, seperti halnya Pan Pugeh yang rela mati demi sang pemimpin. Penulis juga menyertakan cuplikan surat sakti’ Ngurah Rai yang kemudian dibahasakan Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati yang karib disapa Cok Ace. Dalam surat balasan Ngurah Rai atas ajakan berunding dari dua perwira Belanda, Termeulen dan Konig, yang pernah dibantunya menyeberang dari Bali ke Jawa ketika Jepang datang, ia berkukuh bahwa Bali bukan tempat untuk berkompromi. Jika ingin kompromi, ia mempersilakan berunding dengan pemerintah pusat. Hal itu lantas dimaknai sebagai sebuah kesadaran besar di masa itu jika Bali ialah bagian dari sesuatu yang lebih besar, yakni Indonesia. Di luar peta wisata Andre Syahreza, penulis kelahiran Jakarta itu, mengaku butuh waktu satu tahun dan melakukan tiga kali kunjungan ke Bali untuk mendapatkan data-data yang kemudian dikisahkan dengan tutur bahasa populer. Kecintaannya pada Bali, yang barangkali terpantik ketika dirinya menghabiskan masa remaja di Singaraja –Ibu Kota Sunda Kecil pada era Kolonial—kemudian berkuliah di Universitas Udayana dan merintis karier jurnalistik di Bali Post, membuat apa saja yang berkaitan dengan pulau dewata selalu menarik di matanya. "Tantangan terbesar setelah 13 tahun hiatus menulis buku itu bagaimana menuliskan kisah bersejarah agar menarik dibaca di masa sekarang. Buku ini saya tulis dengan membayangkan pembaca dari generasi milenial dan zilenial, dan duduk manis setiap hari selama 4-8 jam untuk menulis itu enggak gampang ternyata," kata Andre melalui surat elektronik, Jumat 9/6. Dari riset untuk buku keempatnya itu, Andre mengaku banyak menemukan hal menarik di luar persona Ngurah Rai yang ingin dibaginya juga kepada para pembaca. Salah satunya ialah pengalaman mengunjungi tempat-tempat yang tidak ada dalam peta wisata mainstream, seperti Desa Air Kuning di Kabupaten Jembrana, juga Desa Tanah Aron di Karangasem. Desa-desa tersebut merupakan rangkaian dari jejak perjuangan Ngurah Rai. "Ada sebuah desa di Bali bagian barat yang penduduknya ialah orang-orang Bali beragama Islam. Desa itu terasa seperti Banyuwangi kecil di Bali. Selain itu, saya bertemu saksi-saksi sejarah yang berusia di atas 90 tahun. Mereka pernah bertemu Ngurah Rai, atau ada dalam peristiwa pertempuran pada masa itu. Sepanjang penelusuran, saya bisa melihat sisi lain Bali yang jarang terlihat di brosur pariwisata," tuturnya. Menyimak buku ini, barangkali pembaca akan merasa seperti menyantap hidangan semacam nasi campur. Kadang terasa seperti membaca buku sejarah atau biografi, kadang juga seperti buku travelling. Kendati demikian, Prosa Gerilya Mengurai Kisah Ngurai Rai bisa dibilang nasi campur yang nikmat dan patut dibaca untuk memperluas cakrawala akan Bali dan sang pahlawan I Gusti Ngurah Rai. M-2

bertolak ke tempat yang lebih dalam